Liburan bersama teman-teman kantor ternyata bisa seasik ini.
Awalnya semua hanya berangkat dari obrolan sederhana: gowes dan riding di Yogyakarta. Dari Gresik, kami sudah membawa pakaian gowes, sepeda lipat, dan berbagai rencana yang sudah disusun sebelumnya. Salah satu agenda yang paling saya tunggu tentu saja riding dari Jogja menuju Gunung Telomoyo, menikmati perjalanan sekaligus melihat pemandangan dari atas.
Rencana awalnya saya akan menggunakan Vespa Sprint matic. Sudah cocok sekali sebenarnya dengan suasana Jogja. Namun entah kenapa pihak rental akhirnya tidak jadi mengirim Vespa tersebut. Mau bagaimana lagi, harus legowo. Akhirnya motor diganti dengan NMAX.
Dan ternyata keputusan darurat itu tidak buruk juga.
Kami berangkat Jumat sekitar pukul lima sore dan melanjutkan perjalanan menuju Boyolali. Salah satu tujuan malam itu adalah makan bebek bakar. Sayangnya, setibanya di sana bebek bakarnya hampir habis. Hanya tersisa dua porsi untuk bos saya dan Mas Aksa.
Saya akhirnya memilih menu alternatif berupa ayam bakar.
Ternyata...
Uwehhh, ayam bakarnya enak banget, coy. Asli.
Kadang memang yang tidak direncanakan justru malah menyenangkan.
Setelah makan, kami melanjutkan salat Maghrib dan Isya, kemudian kembali meneruskan perjalanan menuju Yogyakarta. Kami baru sampai sekitar pukul 12 malam. Belum selesai sampai di situ, saya masih harus mengambil NMAX untuk persiapan riding keesokan harinya.
Sampai hotel kurang lebih pukul satu pagi. Masih sempat nongkrong sebentar bersama teman-teman, mandi sekitar pukul setengah dua, lalu tidur.
Tidurnya pun tidak bisa lama.
Jam lima pagi sudah harus bangun lagi untuk persiapan riding.
Riding Menuju Telomoyo
Perjalanan kali ini ternyata jauh lebih menarik daripada yang dibayangkan karena cukup banyak “tragedi kecil” sepanjang jalan.
Motor NMAX Mas Mufid beberapa kali mengalami masalah pada gas yang terasa loss. Sementara NMAX Mas Irul mengalami kebocoran air radiator dan bahkan ban bocor.
Lengkap sudah.
Akhirnya perjalanan dilakukan dengan lebih santai dan pelan-pelan. Walaupun sesekali saya masih suka ngebut sendiri di depan. Hahaha.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, kami akhirnya sampai di kawasan Gunung Telomoyo.
Jalannya ternyata sangat bagus.
Pemandangan Gunung Andong yang terlihat sepanjang perjalanan juga benar-benar membuat perjalanan terasa worth it. Udara, jalanan, pegunungan, dan suasana riding bersama teman-teman kantor menjadi kombinasi yang sulit digambarkan hanya lewat foto.
Kadang memang perjalanan seperti ini bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi tentang siapa yang ikut berada di perjalanan tersebut.

Soto Daging yang Katanya Ada Ayam
Setelah puas menikmati Telomoyo, kami melanjutkan perjalanan untuk makan siang.
Pilihannya adalah soto daging. Awalnya saya mendapat informasi kalau di sana juga tersedia soto ayam.
Saya cukup tenang.
Namun setelah sampai...
Soto ayamnya tidak ada.
Mau tidak mau saya harus berhadapan dengan soto daging sapi.
Buat orang lain mungkin biasa saja. Tapi saya memang kurang suka aroma daging sapi. Jadi setiap suapan saya coba telan cepat-cepat tanpa terlalu banyak mengunyah.
Wkwkwk.
Tidak apa-apa. Yang penting teman-teman lain menikmati makanannya dan suasananya tetap menyenangkan.
Namun setelah makan siang, suasana perjalanan tiba-tiba berubah.
Pak Sentot, salah satu sahabat kami di kantor, mendapatkan kabar duka bahwa ibu mertuanya meninggal dunia.
Kami semua ikut berduka.
Padahal rencana gowes pada hari Minggu sebenarnya berawal dari beliau. Tetapi kami akhirnya sepakat untuk membatalkan agenda gowes apabila Pak Sentot tidak ikut. Bukan karena gowesnya tidak bisa dilakukan tanpa beliau, tetapi rasanya kurang pantas apabila kami tetap menjalankan agenda tersebut di tengah kabar duka yang sedang beliau alami.
Kadang menghormati teman jauh lebih penting daripada menjalankan sebuah itinerary.
Malam di Jogja
Malam harinya kami kembali berkumpul.
Teman-teman yang sebelumnya bermain golf ikut bergabung sehingga rombongan semakin ramai. Kami menuju kawasan Alun-Alun Utara dan karaoke di sebuah tempat bernama Kandang Macan.
Namanya memang terdengar cukup menyeramkan.
Tapi tenang saja, ternyata hanya nama tempat.
Kami menghabiskan malam dengan karaoke, ngobrol, tertawa, dan tentu saja makan mie kuah langganan Bos Tri, sang “akamsi Boyolali”.
Setelah itu saya mengantarkan Pak Sentot menuju Stasiun Tugu menggunakan NMAX yang saya pakai.
Sedikit sombong boleh lah.
Ternyata NMAX ini memang nyaman sekali untuk perjalanan. Posisi duduknya santai dan badan tidak terlalu capek meskipun dipakai berkeliling cukup jauh.
Pak Sentot harus naik kereta menuju Malang agar bisa mengikuti prosesi pemakaman. Setelah memastikan beliau sampai di stasiun, saya kembali ke tongkrongan bersama teman-teman.
Ada satu cerita kecil malam itu.
Driver kami sempat mengeluh karena biaya parkir Hiace ternyata mencapai Rp40.000. Mungkin karena melihat kendaraan dengan pelat luar kota, ada saja oknum yang mencoba mengambil kesempatan.
Tapi ya sudah.
Rezeki ada yang mengatur. Harus legowo.
Minggu Pagi yang Akhirnya Berubah
Seharusnya Minggu pagi menjadi waktunya kami gowes mengelilingi Jogja.
Namun sesuai keputusan sebelumnya, agenda tersebut kami batalkan.
Akhirnya pagi itu berjalan jauh lebih santai. Kami berada di hotel sampai sekitar pukul sembilan, berjalan-jalan di sekitar kampung, ngobrol santai, dan menikmati suasana.
Di sana saya melihat sebuah kolam berisi ikan nila.
Entah kenapa langsung terlintas pikiran:
“Suatu hari saya ingin punya kolam seperti ini sendiri.”
Simple memang. Tapi terkadang perjalanan justru melahirkan keinginan-keinginan kecil yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Setelah itu saya harus mengembalikan NMAX ke daerah Lempuyangan.
Dan karena saya sudah tahu teman-teman kemungkinan akan sedikit terlambat menjemput saya, saya memutuskan menggunakan waktu tersebut untuk berjalan sendiri.
Saya kembali menuju Malioboro.
Bukan untuk belanja.
Tapi untuk sedikit mengenang masa lalu.
Jogja dan Cerita Lama Saya
Ada satu bagian dari Yogyakarta yang selalu punya tempat tersendiri dalam hidup saya.
Dulu saya pernah datang ke kota ini untuk mengikuti seleksi Sekolah Kedinasan Sandi Negara.
Saat itu saya benar-benar ingin masuk ke dunia keamanan siber. Dalam kepala saya waktu itu, saya ingin bekerja di bidang cyber crime dan membangun karier dari sana.
Seleksinya sebenarnya sudah cukup jauh.
Namun perjalanan tersebut akhirnya berhenti di tahap wawancara. Padahal setelah itu tinggal beberapa tahapan lagi menuju tes kesehatan dan pantukhir.
Cita-cita itu akhirnya kandas.
Tapi kalau sekarang dipikir kembali, mungkin hidup memang punya jalannya sendiri.
Yang paling saya ingat justru bukan hanya tentang ujiannya.
Dulu kondisi keuangan saya sangat terbatas.
Saya benar-benar menjaga tabungan supaya tetap bisa bertahan selama berada di Jogja. Saya bahkan pernah tidur di kawasan Malioboro karena ingin berhemat dan tidak menyewa kos atau penginapan.
Kalau butuh tempat istirahat, terkadang saya pergi ke area Ayam Geprek yang memiliki lantai dua.
Dan ada satu kejadian yang kalau diingat sekarang benar-benar absurd.
Saya pernah memberanikan diri masuk kembali ke sebuah hotel hanya untuk ikut mandi.
Wkwkwk.
Kalau sekarang dipikir-pikir:
parah juga saya dulu.
Tapi mungkin justru pengalaman seperti itulah yang membuat perjalanan hidup terasa lebih berarti.
Sekarang saya bisa kembali ke tempat yang sama dengan kondisi yang sudah sangat berbeda. Datang bukan untuk mengikuti tes, bukan untuk mencari tempat tidur murah, dan bukan untuk menghitung uang agar cukup sampai pulang.
Saya datang untuk liburan bersama teman-teman kantor.
Riding.
Makan.
Nongkrong.
Tertawa.
Dan menikmati Jogja dengan cara yang jauh lebih tenang.
Suatu hari nanti, ketika saya sudah memiliki istri dan keluarga sendiri, mungkin cerita ini akan saya ceritakan kembali setiap kali kami liburan ke Jogja.
Tentang seorang anak muda yang pernah datang ke kota ini membawa cita-cita besar, gagal di sebuah seleksi, tidur di Malioboro demi menghemat uang, sampai pernah numpang mandi di hotel.
Karena ternyata hidup memang penuh plot twist.
Dan mungkin itu juga yang membuat perjalanan menjadi menarik.
Kadang kita kembali ke tempat yang sama, bukan untuk mengulang masa lalu, tetapi untuk menyadari bahwa ternyata kita sudah berjalan cukup jauh.


// diskusi
0 komentar. Tulis pertanyaan, tanggapan, atau apapun.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.