Hari ini adalah hari ke-74 sejak saya memutuskan untuk berhenti merokok.
Angka 74 mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang. Belum mencapai seratus, bahkan belum sampai pada target awal yang saya tetapkan sendiri, yaitu 90 hari. Namun, bagi saya, setiap angka di dalam perjalanan ini memiliki ceritanya masing-masing. Ada hari yang terasa mudah, ada hari ketika saya hampir tidak memikirkan rokok sama sekali, tetapi ada juga hari seperti hari ini, ketika keinginan untuk kembali merokok muncul dengan sangat kuat.

Akhir-akhir ini, saya juga sedang membuat sebuah website tentang berhenti merokok. Mungkin proyek tersebut lahir dari pengalaman pribadi sekaligus menjadi pengingat bahwa saya sedang berusaha meninggalkan kebiasaan yang pernah menjadi bagian besar dari kehidupan sehari-hari. Membuat website itu terasa seperti berbicara kepada diri sendiri. Setiap kali menulis tentang alasan untuk berhenti, menghitung berapa lama saya sudah bertahan, atau memikirkan bagaimana perjalanan ini dapat membantu orang lain, saya kembali diingatkan pada keputusan yang saya ambil 74 hari lalu.
Namun, membuat website tentang berhenti merokok bukan berarti saya sudah sepenuhnya terbebas dari keinginan untuk merokok.
Justru hari ini menjadi salah satu hari ketika pikiran itu datang kembali.
Ketika Stres Membawa Ingatan Lama
Hari ini pekerjaan terasa sangat melelahkan. Ada banyak hal yang memenuhi kepala dan membuat saya stres. Dalam kondisi seperti itu, muncul sebuah bayangan yang dahulu sangat akrab dengan kehidupan saya, yaitu secangkir kopi yang ditemani beberapa batang rokok.
Ada perasaan bahwa minum kopi sambil mengisap rokok akan membuat hari ini sedikit lebih tenang. Seolah-olah empat batang rokok saja sudah cukup untuk memberikan ruang bernapas di tengah tekanan pekerjaan.
Saya bahkan sempat berpikir bahwa saya tidak ingin kembali merokok sepenuhnya. Saya hanya ingin menikmati satu sampai empat batang. Sekadar menemani kopi, meredakan stres, dan memberikan waktu sejenak untuk menikmati hidup serta mensyukuri apa yang sudah saya miliki.
Pikiran seperti itu terdengar sederhana dan masuk akal.
Hanya beberapa batang. Hanya hari ini. Hanya karena sedang stres.
Namun, saya menyadari bahwa mungkin seperti itulah kebiasaan lama mencoba membuka pintunya kembali. Bukan dengan ajakan untuk langsung merokok satu bungkus, melainkan melalui sebuah tawaran kecil yang terlihat tidak berbahaya.
“Satu batang saja.”
“Empat batang tidak akan mengubah apa pun.”
“Besok bisa berhenti lagi.”
Kalimat-kalimat seperti itu muncul dari dalam pikiran sendiri. Anehnya, saya juga yang harus menjawab dan mematahkannya.
Pada akhirnya, keinginan tersebut tidak berhasil membawa saya kembali kepada rokok. Hari ke-74 tetap menjadi hari tanpa rokok.
Tidak ada perayaan besar. Tidak ada tepuk tangan. Hanya sebuah kemenangan kecil yang terjadi di dalam diri saya sendiri.
Dan mungkin, justru kemenangan-kemenangan kecil seperti itulah yang paling penting.
Belajar Menghadapi Stres dengan Cara Berbeda
Sejak berhenti merokok, saya mulai menyadari bahwa rokok dahulu bukan hanya sebuah kebiasaan. Rokok juga menjadi cara saya merespons berbagai keadaan.
Ketika sedang lelah, saya merokok.
Ketika pekerjaan sedang banyak, saya merokok.
Ketika minum kopi, saya merokok.
Ketika ingin bersantai atau mensyukuri sesuatu, saya juga merokok.
Artinya, yang harus saya tinggalkan bukan hanya rokoknya, tetapi juga hubungan antara rokok dan berbagai momen dalam kehidupan sehari-hari. Saya harus belajar kembali cara menikmati kopi tanpa asap, menghadapi stres tanpa tembakau, serta memberikan penghargaan kepada diri sendiri tanpa menyalakan sebatang rokok. Proses ini tentu tidak selalu berjalan sempurna.
Ketika sedang stres, terkadang saya memilih makan lebih banyak. Setelah kenyang, biasanya rasa kantuk mulai datang. Kantuk itu kemudian membawa saya untuk tidur. Kebetulan saya memang termasuk orang yang sangat menikmati tidur, jadi cara tersebut sering kali terasa cukup efektif untuk membantu saya melewati keinginan merokok.
Meski demikian, saya juga mulai memahami bahwa setiap keinginan tidak harus selalu dilawan dengan keras. Terkadang saya hanya perlu membiarkannya muncul, menyadari bahwa keinginan itu ada, lalu memberinya waktu untuk berlalu.
Saya tidak perlu memenangkan perjalanan 90 hari sekaligus.
Saya hanya perlu memenangkan hari ini.
Besok, saya akan melakukan hal yang sama sekali lagi.
Kembalinya Hobi Lama
Ada satu hal menarik yang saya rasakan sejak berhenti merokok. Sebuah hobi lama yang pernah jauh dari kehidupan saya perlahan-lahan mulai muncul kembali, yaitu membaca buku.
Sekarang, membaca bukan lagi sekadar kegiatan yang saya lakukan ketika sedang memiliki waktu luang. Membaca mulai menjadi rutinitas yang saya nantikan setiap hari. Terkadang saya membaca sebelum berangkat kerja. Pada waktu yang lain, saya membaca setelah pulang kerja, duduk dengan tenang di dalam kamar sambil menikmati secangkir kopi V60.
Tidak ada suara korek api.
Tidak ada asap yang memenuhi ruangan.
Tidak ada sebatang rokok yang perlahan habis di antara jari.
Hanya ada saya, sebuah buku, dan secangkir kopi.
Ternyata, kombinasi sederhana itu mampu memberikan rasa tenang yang sebelumnya selalu saya kaitkan dengan rokok. Kopi masih terasa nikmat. Waktu untuk diri sendiri tetap terasa menyenangkan. Bahkan, saya merasa mendapatkan sesuatu yang lebih bermakna karena setelah kopi habis, ada cerita, pengetahuan, atau pemikiran baru yang tertinggal dari buku yang saya baca.
Mungkin selama ini saya bukan hanya mencari nikotin. Saya mencari jeda.
Saya mencari sebuah momen ketika dunia terasa sedikit lebih lambat. Sebuah kesempatan untuk berhenti memikirkan pekerjaan dan membiarkan pikiran beristirahat. Dahulu, jeda itu saya temukan melalui rokok. Sekarang, perlahan-lahan saya menemukannya melalui halaman-halaman buku.
Kopi yang Tidak Lagi Harus Ditemani Rokok
Salah satu tantangan terbesar dalam berhenti merokok adalah memisahkan dua hal yang sudah lama terasa seperti pasangan, yaitu kopi dan rokok. Bagi banyak perokok, termasuk saya dahulu, kopi seperti belum lengkap tanpa rokok. Keduanya hadir bersamaan saat memulai pagi, ketika beristirahat dari pekerjaan, atau ketika ingin menikmati waktu sendirian.
Pada awalnya, minum kopi tanpa merokok terasa ada yang kurang. Tangan seperti mencari sesuatu. Pikiran juga mengingat kebiasaan lama. Aroma kopi dapat menjadi pemicu munculnya keinginan untuk kembali merokok.
Namun, setelah melalui hari demi hari, saya mulai membentuk hubungan yang baru dengan kopi.
Sekarang saya mencoba menikmati proses menyeduh V60, memperhatikan aroma yang muncul, kemudian membacanya bersama sebuah buku. Kopi tidak lagi menjadi alasan untuk merokok. Kopi perlahan-lahan menjadi bagian dari rutinitas membaca.
Hal yang sebelumnya menjadi pemicu keinginan merokok kini berubah menjadi teman dalam membangun kebiasaan baru. Perubahannya memang tidak terjadi dalam satu malam. Bahkan pada hari ke-74, keinginan lama itu masih dapat muncul. Namun, setidaknya sekarang saya tahu bahwa secangkir kopi tetap bisa dinikmati tanpa harus mengorbankan perjalanan yang sudah saya pertahankan selama lebih dari dua bulan.
Target Berikutnya: 90 Hari
Saat ini, tujuan awal saya adalah mencapai 90 hari tanpa rokok.
Saya belum tahu bagaimana perasaan saya nanti ketika berhasil sampai ke sana. Mungkin keinginan untuk merokok masih sesekali muncul. Mungkin saya masih akan menghadapi hari-hari berat. Bisa juga perjalanan setelah hari ke-90 ternyata tetap membutuhkan perjuangan yang sama. Namun, saya tidak ingin terlalu jauh memikirkan semuanya.
Dari hari ke-74 menuju hari ke-90, masih ada beberapa langkah yang harus saya lewati. Saya ingin menjalaninya satu per satu.
Ketika stres datang, saya ingin belajar berhenti sejenak tanpa mencari rokok. Ketika kopi tersaji, saya ingin mengambil buku sebagai teman. Ketika pikiran mulai menawarkan “satu batang saja”, saya ingin mengingat bahwa satu batang itu tidak sebanding dengan 74 hari yang telah saya perjuangkan.
Saya tidak ingin menganggap bahwa berhenti merokok telah membuat saya menjadi orang yang sepenuhnya berbeda. Saya masih orang yang sama. Saya masih dapat mengalami stres, lelah, bosan, dan terkadang ingin kembali kepada kebiasaan lama.
Bedanya, sekarang saya mulai memahami bahwa sebuah keinginan tidak selalu harus dituruti. Keinginan dapat datang dan pergi.
Sementara itu, keputusan untuk bertahan dapat terus saya pilih setiap hari.
Bertahan, Satu Hari Lagi
Hari ke-74 mengajarkan saya bahwa kemajuan tidak selalu ditandai dengan hilangnya seluruh godaan. Kemajuan juga dapat berarti merasakan keinginan yang sangat kuat, tetapi tetap memilih untuk tidak melakukannya.
Hari ini saya stres.
Hari ini saya sempat ingin merokok satu sampai empat batang.
Hari ini saya membayangkan kopi dan rokok sebagai penenang.
Namun, hari ini saya tetap tidak merokok.
Mungkin inilah bentuk kekuatan yang sesungguhnya. Bukan tidak pernah tergoda, melainkan mampu bertahan meskipun sedang tergoda.
Saya bersyukur karena dalam perjalanan meninggalkan rokok, saya menemukan kembali kesenangan sederhana yang sempat terlupakan. Membaca buku, menikmati kopi V60, beristirahat di kamar, dan memberi waktu kepada diri sendiri tanpa harus ditemani asap tembakau.
Perjalanan ini masih berlanjut. Target 90 hari sudah semakin dekat, tetapi saya tidak ingin hanya mengejar angkanya. Saya ingin membangun kehidupan yang tidak lagi menempatkan rokok sebagai jawaban atas stres, perayaan, rasa syukur, ataupun kebutuhan untuk beristirahat.
Untuk saat ini, saya tidak harus berjanji akan kuat selamanya.
Saya hanya perlu membuat satu keputusan sederhana:
Hari ini, saya memilih untuk tidak merokok.
Besok, saya akan mencoba memilihnya sekali lagi.
// diskusi
0 komentar. Tulis pertanyaan, tanggapan, atau apapun.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.