Apakah saya bersalah ketika mengiyakan sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar saya inginkan?

Pertanyaan itu beberapa kali muncul di kepala saya akhir-akhir ini. Bukan karena saya melakukan sesuatu yang sangat buruk, bukan juga karena ada seseorang yang dirugikan secara langsung. Semuanya bermula dari sebuah ajakan sederhana dari teman-teman kantor untuk mencoba driving golf.

Saat itu, saya mengiyakannya.

Mungkin karena penasaran. Mungkin karena tidak enak menolak. Mungkin juga karena golf terlihat seperti kegiatan yang menarik untuk dicoba bersama rekan kerja. Namun, kalau saya jujur kepada diri sendiri, mungkin saya mengiyakan ajakan tersebut tanpa benar-benar memikirkan apakah saya ingin menjalaninya dalam jangka panjang.

Awalnya memang menyenangkan.

Ada sensasi tersendiri ketika berdiri di area driving, memegang stik, mengatur posisi tubuh, lalu berusaha memukul bola dengan tepat. Kelihatannya sederhana, tetapi ternyata membutuhkan fokus yang cukup tinggi. Sedikit saja posisi tubuh berubah atau konsentrasi terganggu, arah bola bisa berbeda dari yang diharapkan. Memukul bola golf juga memberikan kepuasan yang unik. Terutama ketika pukulannya terasa pas dan bola melaju cukup jauh. Pada momen seperti itu, saya bisa memahami mengapa banyak orang menyukai golf. Olahraga ini bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga ketenangan, kesabaran, teknik, dan kemampuan mengendalikan diri.

Masalahnya, setelah beberapa kali mencoba, saya mulai bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya benar-benar menyukai golf, atau saya hanya sedang berusaha menyukai sesuatu karena sudah telanjur mengiyakannya?

Mengiyakan Karena Tidak Enak Menolak

Saya rasa banyak orang pernah mengalami situasi serupa.

Ada ajakan dari teman, rekan kerja, atau bahkan atasan. Sebenarnya kita tidak terlalu tertarik, tetapi menolaknya terasa tidak enak. Akhirnya, mulut lebih cepat mengatakan “iya” sebelum pikiran sempat mempertimbangkan konsekuensinya.

Ketika ajakan itu datang dari lingkungan kerja, perasaan tidak enaknya menjadi lebih besar. Kita takut dianggap tidak mau bergaul, tidak mendukung kebersamaan, atau terlalu menutup diri. Karena alasan itulah, terkadang kita mengikuti sesuatu bukan karena benar-benar ingin, tetapi karena ingin menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitar.

Saya pun demikian.

Ketika diajak mencoba driving golf, saya tidak memikirkan terlalu jauh mengenai kelanjutannya. Saya hanya melihat bahwa kegiatan tersebut akan seru jika dilakukan bersama-sama. Saya belum memikirkan soal coaching, perlengkapan, iron set, biaya latihan, atau kemungkinan untuk benar-benar turun ke lapangan golf. Saya hanya memikirkan satu sesi driving.

Namun, setelah masuk ke dalamnya, saya mulai menyadari bahwa sebuah hobi bisa membutuhkan komitmen yang lebih besar daripada sekadar datang dan mencoba. Ada waktu yang harus disediakan. Ada energi yang perlu diberikan. Ada biaya yang harus dipertimbangkan. Lebih dari itu, harus ada keinginan dari dalam diri agar semua pengorbanan tersebut terasa layak dilakukan.