Kalau melihat pasar beberapa hari terakhir, ada satu hal yang cukup menarik. Emas menguat, Bitcoin naik, sebagian komoditas ikut bergerak, dan pasar saham juga menunjukkan tenaga. Sekilas semuanya terlihat seperti bergerak sendiri-sendiri, padahal sering kali ada satu aliran besar yang menghubungkan semuanya.
Salah satu ceritanya datang dari Amerika Serikat. Pemerintah AS meningkatkan pembelian kembali obligasi jangka panjang melalui kebijakan yang disebut US Treasury Buyback. Namanya memang terdengar teknis, tetapi kalau dibawa ke logika sehari-hari, sebenarnya jauh lebih mudah dipahami.
Bayangkan Amerika adalah seseorang yang punya banyak utang. Untuk mendapatkan uang, dia menerbitkan surat janji kepada orang-orang yang mau meminjamkan dana. Isinya sederhana: beri saya uang sekarang, nanti saya kembalikan beberapa tahun lagi bersama bunganya.
Surat utang pemerintah Amerika itulah yang disebut US Treasury. Jangka waktunya bermacam-macam, ada yang 2 tahun, 10 tahun, sampai 30 tahun. Investor yang membeli surat itu pada dasarnya sedang meminjamkan uang kepada pemerintah Amerika.
Semakin besar utang seseorang, biasanya pemberi pinjaman juga semakin berhati-hati. Investor pun bisa meminta keuntungan yang lebih tinggi sebagai kompensasi. Kalau sebelumnya mereka bersedia menerima 4%, sekarang mungkin baru tertarik jika mendapatkan 5%.
Tingkat keuntungan dari obligasi inilah yang sering disebut yield. Jadi secara sederhana, ketika yield naik, pasar sedang meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk mau memegang obligasi tersebut.
Lalu pemerintah Amerika masuk ke pasar dan membeli kembali sebagian obligasi yang sudah beredar. Bayangkan sebuah barang di pasar tiba-tiba diborong oleh pembeli besar. Permintaannya naik, sehingga harga barang tersebut bisa ikut naik.
Hal yang sama bisa terjadi pada obligasi. Ketika harga obligasi naik, yield biasanya bergerak ke arah sebaliknya, yaitu turun.
Pemerintah membeli obligasi → harga obligasi naik → yield turun.
Dari titik inilah dampaknya mulai merambat ke aset lain.
Ketika yield turun, emas bisa menjadi lebih menarik. Misalnya kita memiliki Rp100 juta dan harus memilih antara obligasi yang memberikan bunga 5% per tahun atau emas yang tidak memberikan bunga. Kalau obligasi menawarkan bunga tinggi, tentu banyak orang akan melihat obligasi sebagai pilihan yang lebih menarik.
Tetapi jika bunga obligasi turun dari 5% menjadi 4%, lalu mungkin turun lagi, keunggulan obligasi mulai mengecil. Emas yang sebelumnya terlihat kurang menarik mulai kembali dilirik karena selisih keuntungan yang diberikan obligasi tidak sebesar sebelumnya.
Jadi hubungan sederhananya adalah:
Yield turun → emas biasanya lebih menarik.
Selain yield, ada satu indikator lain yang sering muncul ketika membahas emas, yaitu DXY. Tidak perlu memikirkan rumusnya. Anggap saja DXY sebagai angka untuk melihat apakah dolar Amerika sedang kuat atau sedang lemah dibandingkan beberapa mata uang besar dunia.
Kalau DXY naik, dolar cenderung menguat. Kalau DXY turun, dolar cenderung melemah. Hal ini penting karena emas dan banyak komoditas dunia diperdagangkan menggunakan dolar.
Ketika dolar melemah, emas secara relatif menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Kondisi itu bisa membantu mendorong permintaan dan harga emas.
Kalau mau dibuat sangat sederhana:
Dolar turun, emas biasanya senang.
Tentu pola itu tidak selalu bekerja setiap hari. Pasar punya banyak faktor lain. Tetapi untuk memahami hubungan dasarnya, gambaran tersebut sudah cukup membantu.
Bitcoin punya cerita yang agak berbeda. Selama ini Bitcoin sering dianggap sebagai aset berisiko yang disukai ketika investor sedang berani mengambil risiko. Namun semakin banyak pelaku pasar yang juga melihat Bitcoin sebagai alternatif terhadap uang fiat seperti dolar.
Salah satu alasannya adalah jumlah Bitcoin yang dibatasi sekitar 21 juta koin. Sementara jumlah dolar dapat terus bertambah mengikuti kebutuhan ekonomi dan kebijakan pemerintah. Dari sinilah muncul kekhawatiran bahwa nilai uang biasa bisa semakin tergerus dalam jangka panjang.
Ketika utang pemerintah membesar dan kekhawatiran terhadap nilai dolar meningkat, sebagian investor bisa memilih memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih terbatas jumlahnya. Bitcoin menjadi salah satu pilihannya.
Itulah sebabnya emas dan Bitcoin kadang bisa naik bersamaan. Emas sering dipandang sebagai aset perlindungan, sedangkan Bitcoin masih sering dianggap sebagai aset berisiko. Tetapi ketika pasar sedang khawatir terhadap nilai uang, keduanya bisa sama-sama mendapatkan aliran dana.
Saham pun bisa mendapatkan keuntungan dari penurunan yield. Bayangkan sebuah perusahaan teknologi yang keuntungan besarnya baru diperkirakan datang lima atau sepuluh tahun lagi. Investor perlu menghitung seberapa berharga keuntungan masa depan itu jika dinilai dengan uang hari ini.
Ketika tingkat bunga tinggi, keuntungan yang masih jauh di masa depan menjadi terlihat kurang menarik. Sebaliknya, ketika bunga turun, nilai keuntungan masa depan tersebut terlihat lebih besar.
Karena itu penurunan yield sering menjadi kabar baik bagi saham, khususnya saham teknologi dan perusahaan yang masih berada dalam fase pertumbuhan.
Hubungannya bisa diringkas seperti ini:
Yield turun → biaya uang lebih murah → valuasi saham menjadi lebih menarik.
Itulah salah satu alasan pergerakan US Treasury Yield sering diperhatikan oleh investor yang mengikuti indeks seperti Nasdaq.
Komoditas juga memiliki hubungan dengan dolar. Banyak komoditas seperti minyak, tembaga, perak, nikel, dan tentu saja emas diperdagangkan menggunakan dolar Amerika.
Bayangkan sebuah komoditas memiliki harga US$100. Ketika dolar sangat kuat, pembeli dari China, Jepang, Eropa, atau negara lain harus mengeluarkan lebih banyak mata uang lokal untuk mendapatkan US$100 tersebut. Kalau dolar melemah, harga yang sama secara relatif menjadi lebih ringan.
Karena itu penurunan DXY bisa menjadi dorongan bagi komoditas. Meski begitu, bukan berarti semua komoditas akan otomatis naik hanya karena dolar melemah.
Harga nikel tetap sangat dipengaruhi jumlah pasokan nikel. Minyak tetap dipengaruhi produksi OPEC, geopolitik, dan permintaan dunia. Batu bara juga sangat bergantung pada kebutuhan energi negara besar seperti China dan India.
Jadi dolar hanyalah satu bagian dari cerita. Supply dan demand masing-masing komoditas tetap menjadi penentu yang sangat penting.
Lalu apa hubungannya dengan Indonesia?
Ketika yield Amerika menurun, return dari aset di Amerika menjadi sedikit kurang menarik. Investor global bisa mulai mencari peluang di tempat lain yang menawarkan return lebih tinggi, termasuk negara berkembang atau emerging market seperti Indonesia.
Jika sebagian dana asing masuk ke Indonesia, permintaan terhadap rupiah bisa meningkat sehingga rupiah berpotensi menguat. Di saat yang sama, uang asing tersebut juga bisa mengalir ke pasar saham Indonesia.
Biasanya dana besar lebih nyaman masuk terlebih dahulu ke saham yang likuid. Contohnya BBCA, BBRI, BMRI, atau BBNI. Saham-saham seperti ini lebih mudah dibeli dan dijual dalam jumlah besar tanpa terlalu mengganggu pergerakan harga.
Jika kondisi pasar tetap baik, uang kemudian bisa mulai menyebar ke sektor lain. Dari saham bank besar, lalu bergerak ke komoditas, properti, infrastruktur, sampai saham lapis kedua.
Saham komoditas Indonesia juga bisa ikut mendapatkan sentimen. Kalau harga emas dunia naik, perusahaan yang punya eksposur ke emas seperti ANTM, BRMS, ARCI, maupun perusahaan tambang lainnya bisa menjadi lebih menarik di mata pasar.
Hal serupa berlaku untuk tembaga, minyak, dan komoditas lain. Ketika harga komoditas dasarnya naik, perusahaan yang bisnisnya berkaitan dengan komoditas tersebut bisa mendapatkan perhatian lebih besar.
Namun tetap tidak boleh disimpulkan bahwa harga komoditas naik berarti semua saham di sektor itu pasti ikut naik. Kondisi perusahaan tetap harus diperiksa.
Produksinya bagaimana, biaya produksinya tinggi atau tidak, utangnya besar atau tidak, labanya tumbuh atau tidak, ada aksi korporasi apa, dan apakah memang ada aliran dana besar yang masuk ke saham tersebut.
Harga komoditas hanyalah satu potongan dari analisis.
Ada satu istilah yang juga sering muncul dalam kondisi seperti ini, yaitu debasement trade. Kedengarannya rumit, padahal idenya sederhana: kekhawatiran bahwa daya beli uang semakin lama semakin berkurang.
Kita bisa melihat contohnya dari kehidupan sehari-hari. Dahulu Rp10.000 mungkin cukup untuk membeli satu porsi makanan. Beberapa tahun kemudian, makanan yang sama mungkin menjadi Rp15.000. Nilai nominal uangnya tetap, tetapi kemampuan membeli barangnya turun.
Investor bisa memiliki kekhawatiran serupa terhadap dolar. Jika utang Amerika terus meningkat dan jumlah uang terus bertambah, sebagian orang mulai takut daya beli dolar akan menurun dalam jangka panjang.
Akhirnya mereka mencari aset lain untuk menyimpan kekayaan. Pilihannya bisa emas, Bitcoin, saham, tanah, atau komoditas.
Itulah mengapa dalam satu kondisi kita bisa melihat emas naik, Bitcoin naik, beberapa komoditas naik, dan saham ikut menguat sementara dolar justru melemah.
Seolah-olah pasar sedang berkata:
“Saya tidak ingin terlalu banyak menyimpan uang tunai. Saya lebih memilih memegang aset.”
// diskusi
0 komentar. Tulis pertanyaan, tanggapan, atau apapun.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.