Akhir-akhir ini saya cukup sering berdiskusi dengan teman ngopi tentang satu hal yang kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya cukup rumit: berapa pendapatan yang dianggap cukup ketika seseorang sudah menikah?

Pembicaraan ini biasanya dimulai dari hal-hal sederhana. Bukan soal harus kaya, punya rumah besar, atau bisa liburan ke luar negeri setiap tahun. Justru yang saya pikirkan adalah kebutuhan paling dasar. Makan sehari-hari, listrik, air, bensin, kebutuhan rumah, pegangan untuk istri, sampai pengeluaran kecil yang kalau dikumpulkan ternyata cukup besar.

Saya kemudian mencoba membuat beberapa skenario sederhana. Anggap saja ada si A sebagai suami dan si B sebagai istri.

Pada skenario pertama, si A memiliki pendapatan bersih sekitar Rp7,5 juta per bulan sementara si B tidak bekerja. Sekilas angka Rp7,5 juta mungkin terlihat cukup. Tetapi ketika mulai saya breakdown, rasanya ruang geraknya menjadi cukup sempit.

Untuk makan saja, kalau menggunakan anggaran sekitar Rp50 ribu sampai Rp80 ribu per hari untuk berdua, dalam satu bulan sudah ada pengeluaran sekitar Rp1,5 juta sampai Rp2,4 juta. Setelah itu masih ada pegangan untuk istri, kebutuhan mandi dan rumah tangga, bensin, listrik, air, pulsa, internet, kebutuhan mendadak, sesekali makan di luar, dan mungkin liburan sederhana.

Belum lagi kalau masih harus menyewa rumah atau membayar kos.

Di titik itu saya mulai berpikir bahwa pendapatan Rp7,5 juta sebenarnya mungkin cukup untuk bertahan, tetapi belum tentu memberikan ruang yang nyaman untuk menabung, investasi, dana darurat, atau sekadar menikmati hidup tanpa terlalu sering melihat saldo rekening.

Lalu saya mencoba skenario kedua. Suami memiliki pendapatan Rp8 juta dan istri Rp5 juta. Total pendapatan keluarga menjadi Rp13 juta per bulan.

Menurut saya, di angka ini kondisi mulai terasa lebih longgar.

Kebutuhan bulanan yang sebelumnya cukup berat jika hanya ditanggung satu orang sekarang bisa dibagi dari dua sumber penghasilan. Ada ruang untuk membayar kebutuhan rumah tangga, tetap memberikan pegangan pribadi, menikmati hiburan sesekali, dan yang paling penting masih memiliki kesempatan untuk menabung.

Saya pribadi merasa bahwa total pendapatan sekitar Rp13 juta untuk satu keluarga tanpa anak masih cukup realistis untuk menjalani kehidupan yang nyaman, tentu tergantung kota, gaya hidup, dan jumlah tanggungan.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan lain.

Bagaimana kalau salah satu orang berhenti bekerja?

Bagaimana kalau istri memutuskan fokus di rumah?

Bagaimana kalau suami terkena PHK?

Bagaimana kalau tiba-tiba ada kebutuhan medis, keluarga yang harus dibantu, kendaraan rusak, atau kondisi darurat lainnya?

Di sini saya mulai sadar bahwa masalahnya bukan cuma soal berapa besar pendapatan keluarga, tetapi juga seberapa kuat keluarga tersebut bertahan ketika salah satu sumber pendapatan hilang.

Pendapatan Rp13 juta dari dua orang tentu berbeda risikonya dengan Rp13 juta yang seluruhnya berasal dari satu orang. Dua-duanya mungkin menghasilkan angka yang sama, tetapi struktur risikonya berbeda.

Kemudian saya mencoba membuat skenario ketiga. Suami berpenghasilan Rp8 juta, istri Rp5 juta, tetapi sekarang sudah memiliki satu anak.

Di sinilah perhitungan mulai berubah.

Ada susu, popok saat masih kecil, pakaian, biaya kesehatan, kebutuhan sehari-hari anak, pendidikan, sekolah, perlengkapan belajar, kegiatan tambahan, sampai mungkin bimbingan belajar ketika sudah mulai besar.

Biaya seorang anak mungkin tidak langsung terasa besar dalam satu hari, tetapi kalau dilihat dalam jangka panjang, jumlahnya bisa sangat signifikan.

Dan yang sering terlupakan adalah biaya pendidikan tidak berhenti di uang sekolah.

Ada buku.

Ada seragam.

Ada transportasi.

Ada uang kegiatan.

Ada les atau bimbel.

Ada kebutuhan teknologi.

Dan tentu saja ada kebutuhan yang tidak bisa kita prediksi hari ini.

Akhirnya saya bertanya lagi pada diri sendiri, apakah Rp13 juta masih cukup?

Jawaban saya mungkin masih cukup, tetapi ruang untuk melakukan kesalahan menjadi semakin kecil.

Kalau semuanya berjalan lancar, mungkin aman. Tetapi kalau salah satu sumber pendapatan berhenti, situasinya bisa berubah dengan sangat cepat.

Kemudian saya mencoba skenario lain yang sedikit lebih tinggi. Suami memiliki pendapatan Rp15 juta dan istri Rp10 juta. Total pendapatan keluarga sekitar Rp25 juta per bulan.

Pada titik ini, menurut saya kondisinya sudah jauh lebih nyaman.

Dengan pengelolaan yang baik, keluarga mungkin sudah bisa membayar sewa rumah, memenuhi kebutuhan sehari-hari, membantu orang tua, memiliki kendaraan, sesekali liburan, menyiapkan dana darurat, investasi, dan tetap memiliki tabungan setiap bulan.

Bukan berarti Rp25 juta membuat seseorang otomatis bebas dari masalah keuangan.

Gaya hidup selalu bisa mengejar pendapatan.

Orang dengan pendapatan Rp10 juta bisa merasa cukup, sementara orang dengan pendapatan Rp30 juta bisa tetap merasa kurang jika gaya hidupnya ikut naik.

Tetapi setidaknya semakin besar jarak antara pendapatan dan kebutuhan wajib, semakin besar juga ruang untuk bernapas.

Lalu saya menambahkan satu anak ke dalam skenario Rp25 juta tadi.

Pengeluaran tentu meningkat lagi. Tetapi menurut saya kondisi keuangannya masih relatif sehat selama gaya hidup tetap dijaga dan kenaikan pendapatan tidak langsung diikuti dengan kenaikan pengeluaran yang sama besarnya.

Di sinilah saya semakin merasa pentingnya membuat semacam forecast sebelum menikah.

Saya memang tipe orang yang suka merinci sesuatu.

Kalau nanti pendapatan keluarga sekian, saya ingin tahu berapa biaya makan, rumah, listrik, air, kendaraan, kebutuhan pribadi, anak, orang tua, hiburan, tabungan, dana darurat, dan investasi.

Bukan karena kehidupan harus berjalan persis seperti spreadsheet.

Justru karena kehidupan sering kali tidak berjalan sesuai spreadsheet.

Dengan membuat perencanaan, setidaknya kita tahu batas kemampuan kita.

Misalnya pendapatan keluarga Rp13 juta dan kebutuhan rutin Rp9 juta, berarti masih ada ruang Rp4 juta. Tetapi kalau ternyata kebutuhan rutin sudah Rp12 juta, artinya sedikit saja terjadi masalah, keuangan keluarga langsung terganggu.

Bagi saya, tujuan membuat forecast bukan supaya actual budget nantinya harus sama persis dengan angka di Excel.

Tujuannya supaya kita tahu apakah kehidupan yang sedang kita bayangkan memang masuk akal secara finansial.

Apakah setelah menikah masih bisa menabung?

Apakah punya dana darurat?

Apakah masih bisa investasi?

Apakah kalau salah satu kehilangan pekerjaan keluarga masih bisa bertahan beberapa bulan?

Apakah ketika punya anak kehidupan finansial masih cukup sehat?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini belakangan justru membuat saya melihat pernikahan dari sisi yang berbeda.

Menikah bukan hanya tentang menemukan pasangan yang tepat.

Ada kehidupan setelah akad.

Ada tagihan listrik.

Ada biaya makan.

Ada bensin.

Ada kebutuhan rumah.

Ada keluarga yang mungkin perlu dibantu.

Ada anak yang suatu hari membutuhkan pendidikan.

Ada kondisi darurat yang tidak pernah kita masukkan ke dalam rencana.

Dan tentu saja ada keinginan untuk tetap menikmati hidup.

Kadang saya merasa hidup memang unik.

Kita membuat berbagai skenario seolah-olah sedang melakukan simulasi terhadap masa depan. Kita menghitung pendapatan, memperkirakan pengeluaran, membuat cadangan kalau sesuatu terjadi, lalu bertanya kepada diri sendiri apakah kita sudah siap membangun keluarga.

Padahal pada akhirnya kita juga tahu bahwa masa depan tidak pernah benar-benar bisa dihitung.

Yang bisa kita lakukan mungkin hanya memperbesar margin of safety.

Menyiapkan dana darurat.

Mengendalikan gaya hidup.

Tidak mengambil cicilan berlebihan.

Tetap meningkatkan penghasilan.

Dan memastikan bahwa ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencana, keluarga masih memiliki ruang untuk bertahan.

Dari sini saya juga mulai memahami bahwa keputusan untuk menikah atau tetap sendiri untuk sementara waktu sebenarnya bukan hanya soal usia.

Bukan juga soal teman-teman sudah menikah.

Dan bukan tentang siapa yang paling cepat membangun keluarga.

Bagi saya, salah satu pertanyaannya justru sederhana:

Kalau kehidupan berubah besok, apakah kondisi saya hari ini cukup kuat untuk menanggung kehidupan orang lain selain diri saya sendiri?

Mungkin tidak pernah ada angka pendapatan yang benar-benar sempurna untuk mengatakan seseorang sudah siap menikah.

Tetapi setidaknya, dengan menghitung dan membuat beberapa skenario, kita bisa lebih jujur melihat posisi kita sendiri.

Karena pada akhirnya membangun keluarga bukan sekadar bertanya, “Apakah uang saya cukup bulan ini?”

Tetapi juga:

“Kalau kehidupan tidak berjalan sesuai rencana, apakah keluarga saya masih akan baik-baik saja?”