Hari ini saya baru belajar satu hal yang cukup menarik tentang emas. Selama ini saya berpikir sederhana bahwa ketika dunia sedang kacau, perang terjadi, inflasi naik, dan ketidakpastian meningkat, maka harga emas seharusnya ikut naik. Ternyata setelah saya pelajari lagi, pergerakan emas tidak sesederhana itu. Ada banyak faktor yang saling terhubung dan kadang justru saling bertentangan.
Salah satu faktor yang cukup penting adalah harga minyak dunia. Ketika harga minyak naik, dampaknya tidak hanya terasa di SPBU. Minyak masuk ke hampir seluruh rantai ekonomi, mulai dari transportasi, logistik, industri, penerbangan, pelayaran, sampai biaya produksi berbagai barang. Ketika biaya energi naik, perusahaan juga harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memproduksi dan mengirim barang. Pada akhirnya, kenaikan biaya tersebut bisa diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga barang yang lebih mahal.
Di sinilah hubungan antara minyak dan inflasi mulai terlihat. Ketika minyak naik, biaya produksi meningkat, harga barang ikut tertekan naik, lalu inflasi bisa kembali meningkat. Jika inflasi masih tinggi, bank sentral seperti The Federal Reserve di Amerika Serikat tentu akan lebih berhati-hati untuk menurunkan suku bunga. Bahkan pasar bisa mulai berpikir bahwa suku bunga tinggi harus dipertahankan lebih lama daripada perkiraan sebelumnya.
Ketika suku bunga masih tinggi, yield obligasi Amerika juga cenderung tetap menarik. Ini menjadi salah satu tantangan bagi emas. Berbeda dengan obligasi yang bisa memberikan bunga atau imbal hasil, emas tidak menghasilkan bunga. Jadi ketika investor bisa mendapatkan yield yang cukup tinggi dari obligasi pemerintah Amerika, sebagian dari mereka mungkin memilih memindahkan dana ke instrumen tersebut dibandingkan memegang emas.
Dari sini saya mulai memahami bahwa suku bunga tinggi sebenarnya bisa menjadi salah satu lawan emas. Jika inflasi masih tinggi, The Fed menahan suku bunga, lalu yield obligasi tetap tinggi, emas menjadi relatif kurang menarik bagi sebagian investor. Tentu hubungan ini tidak selalu berjalan sempurna, tetapi setidaknya kita bisa melihat kenapa emas terkadang justru turun ketika kondisi ekonomi terlihat penuh ketidakpastian.
Selain yield obligasi, ada faktor lain yang sangat penting yaitu dolar Amerika. Harga emas internasional umumnya menggunakan dolar Amerika sebagai acuannya. Ketika dolar menguat, emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain seperti euro, yen, yuan, atau rupiah. Akibatnya permintaan terhadap emas bisa berkurang dan harga emas mendapatkan tekanan.
Karena itu kita sering melihat hubungan di mana dolar menguat sementara emas melemah. Sebaliknya, ketika dolar melemah, emas biasanya mendapatkan ruang yang lebih besar untuk naik. Namun lagi-lagi, saya tidak ingin melihat hubungan ini sebagai rumus mutlak. Pasar tidak bekerja sesederhana dolar naik satu persen lalu emas pasti turun satu persen. Ada banyak faktor lain yang bergerak secara bersamaan.
Yang menarik, semuanya bisa kembali lagi ke harga minyak. Minyak naik bisa mendorong inflasi. Inflasi yang tinggi membuat The Fed mempertahankan suku bunga. Suku bunga tinggi membuat yield obligasi menarik. Yield yang tinggi kemudian bisa meningkatkan permintaan terhadap dolar. Ketika dolar menguat, emas mendapatkan tekanan. Jadi satu kejadian di pasar energi bisa memengaruhi banyak aset lain.
// diskusi
0 komentar. Tulis pertanyaan, tanggapan, atau apapun.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.