Hari ini saya mendapat insight menarik dari Ko Ed di grup Alumni Bandarmology. Awalnya sederhana: membahas rupiah, DXY, dan korelasinya dengan IHSG. Tapi semakin dipikirkan, ini bukan sekadar obrolan makro biasa.

Selama ini, banyak dari kita terlalu fokus pada chart saham. Kita melihat support, resistance, broker summary, foreign flow, atau volume. Semua itu penting. Tapi kadang tekanan besar di market justru sudah muncul lebih dulu dari tempat lain: mata uang dan bond yield.

Ketika rupiah melemah, DXY menguat, yield obligasi naik, dan asing keluar dari pasar saham, maka IHSG tidak sedang turun sendirian. Ia sedang merespons tekanan yang lebih besar dari sekadar teknikal harian.

Kadang chart IHSG hanya menjadi tempat terakhir market menunjukkan rasa takutnya. Sinyal awalnya bisa muncul dari rupiah, DXY, dan yield obligasi.

Rupiah di Atas 18.000 Bukan Angka Biasa

Dari gambar yang saya lihat, USD/IDR berada di sekitar 18.015. Secara psikologis, angka 18.000 bukan level kecil.

Bagi investor lokal, pelemahan rupiah mungkin terasa sebagai angka kurs biasa. Tapi bagi investor asing, ini sangat penting. Mereka menghitung return dalam dollar.

Misalnya asing membeli saham Indonesia. Sahamnya naik 5%, tetapi rupiah melemah lebih besar terhadap dollar. Dalam hitungan USD, return mereka bisa tergerus atau bahkan berubah menjadi rugi.

Itulah kenapa ketika rupiah melemah tajam, asing cenderung lebih hati-hati terhadap aset Indonesia. Mereka bukan hanya membaca harga saham, tapi juga membaca risiko mata uang.

Bagi asing, saham Indonesia adalah aset rupiah. Kalau rupiahnya melemah, risiko investasi mereka otomatis naik.

DXY dan Rupiah Harus Dibaca Bersama

Insight menarik dari Ko Ed adalah soal hubungan antara DXY dan rupiah.

DXY adalah indeks yang mengukur kekuatan dollar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia. Jika DXY naik, artinya dollar sedang kuat secara global. Dalam kondisi seperti itu, wajar jika mata uang negara berkembang seperti rupiah ikut tertekan.

Tapi masalahnya bukan hanya ketika DXY naik.

Yang lebih berbahaya adalah ketika DXY sideways atau tidak terlalu menguat, tetapi rupiah tetap melemah.

Di titik itu, tekanan rupiah tidak bisa lagi dijelaskan hanya dengan alasan “dollar sedang kuat”. Bisa jadi ada faktor domestik yang membuat investor tidak nyaman terhadap Indonesia.

Apakah karena foreign outflow? Apakah karena risiko MSCI? Apakah karena tekanan fiskal? Apakah karena yield obligasi naik? Apakah karena trust investor global sedang turun? Apakah karena market melihat risiko Indonesia lebih besar dibanding negara lain?