Maret 2024

Sore itu, ketika aku sedang bersiap pulang dari tempat kerja, tiba-tiba datang sebuah ajakan untuk mencoba olahraga yang sebelumnya selalu kuanggap aneh dan membosankan. Tenis.

Dalam pikiranku saat itu, tenis hanyalah permainan memukul bola melewati net, lalu berlari ke kanan dan ke kiri berulang kali. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang membuat orang begitu menikmati olahraga tersebut.

Namun, sebuah percakapan sederhana sore itu akhirnya mengubah pandanganku. 👨🏻 Teman: “Fawwaz, ayo besok kita main tenis di Lapangan GKB.” 🧑🏻‍🦰 Aku: “Waduh, Mas. Aku enggak pernah main tenis sama sekali. Raket saja juga enggak punya.” 👨🏻 Teman: “Sudah, ikut main saja. Nanti raketnya kami pinjami. Daripada setiap malam bengong di rumah.” 🧑🏻‍🦰 Aku: “Oh, iya juga, ya. Hahaha. Oke, Mas, besok aku ikut.”

Ajakan itu terdengar sederhana. Aku pun mengiyakannya tanpa ekspektasi apa pun. Tidak pernah terpikir bahwa keputusan kecil untuk datang ke lapangan pada keesokan harinya akan menjadi awal dari hubungan yang panjang antara aku, raket, dan tenis.

Hari Pertama di Lapangan

Keesokan harinya, aku tiba di lapangan dan melihat teman-teman sudah mulai bermain.

Aku berdiri di pinggir lapangan sambil mengamati gaya permainan mereka. Ada Cak Dedi, Mbak Dhira, Mas Bowo, dan beberapa teman lainnya. Sebagian sudah terlihat cukup terbiasa memegang raket, sementara yang lain juga masih dalam tahap belajar.

Sepertinya hampir tidak ada yang benar-benar memiliki dasar tenis sejak awal. Tujuan kami saat itu pun sangat sederhana: memukul bola melewati net dan berusaha agar bola tidak keluar lapangan.

Hal yang terdengar mudah, tetapi ketika raket sudah ada di tangan, kenyataannya sama sekali tidak sesederhana itu. Permainan pertama pun dimulai.

Aku masih mengingat momen ketika pertama kali menggenggam raket. Berat dan bentuknya terasa berbeda dari raket badminton yang lebih kukenal. Cara memegangnya pun masih terasa canggung. Aku belum memahami bagaimana posisi tubuh yang benar, bagaimana menggerakkan kaki, atau bagaimana mengayunkan raket dengan baik.

Ketika bola pertama melayang ke arahku, semuanya seolah bergerak lebih lambat. Aku mencoba memperkirakan datangnya bola, mengatur posisi tubuh, lalu mengayunkan raket dengan penuh keraguan. Entah bagaimana, raket itu akhirnya berhasil mengenai bola.

Terdengar suara yang sederhana ketika bola bertemu dengan senar raket.

Namun, suara kecil itu seperti meninggalkan sesuatu di dalam hati. Saat itu aku memang belum menyadarinya, tetapi sebuah kisah cinta baru rupanya sedang dimulai.

Bermain Tenis dengan Gaya Badminton

Kalau melihat foto-foto saat pertama kali bermain, sebenarnya penampilanku sudah cukup meyakinkan. Aku sudah memakai sepatu olahraga dan memegang raket tenis. Kalau hanya dilihat dari foto, mungkin orang akan mengira aku sudah cukup mahir.