Beberapa hari terakhir saya lagi cukup tertarik memperhatikan pola yang muncul saat rebalancing MSCI. Bukan hanya soal saham apa yang masuk atau keluar indeks, tapi lebih jauh lagi: siapa yang sebenarnya menyerap barang, siapa yang membuang, dan kenapa pada hari tertentu sebuah saham bisa dibuat naik sangat agresif sampai ARA.
Dari sini saya belajar satu hal penting: di pasar saham, harga yang bergerak naik atau turun itu tidak selalu sesederhana “banyak yang beli” atau “banyak yang jual”. Kadang, di balik pergerakan harga yang terlihat sederhana, ada mekanisme besar yang sedang bekerja. Salah satunya adalah proses rebalancing indeks seperti MSCI, di mana passive fund harus menyesuaikan portofolionya dengan komposisi indeks terbaru.
Nah, dalam proses seperti ini, biasanya ada saham-saham yang harus dibuang oleh passive fund. Jumlahnya bisa sangat besar. Kalau barang sebanyak itu dilepas begitu saja ke pasar tanpa ada yang menyerap, harga bisa jatuh terlalu dalam. Karena itu, di beberapa kasus, sering terlihat ada pihak tertentu yang seolah-olah siap menjadi penampung barang buangan tersebut. Di dunia ritel, pihak seperti ini sering disebut sebagai counter party.
Counter party ini bukan berarti selalu buruk. Mereka bisa saja hanya menjalankan fungsi pasar: menyerap barang yang dilepas besar-besaran, lalu mencari keuntungan dari range pendek. Tapi sebagai investor ritel, kita perlu paham bahwa pihak seperti ini biasanya bukan tipe yang menahan saham untuk jangka panjang. Mereka masuk karena ada momentum, ada barang besar, ada peluang range, lalu keluar ketika targetnya sudah tercapai atau ketika situasi tidak sesuai.
Salah satu pola yang sering dibahas adalah kemunculan broker-broker asing tertentu seperti ZP, CC, TP, dan kadang AK dalam broker summary saham-saham yang sedang mengalami rebalancing. Pola ini bisa terlihat lebih jelas pada saham yang relatif sepi, tetapi tiba-tiba masuk dalam daftar rebalancing. Ketika volume transaksi hariannya tidak terlalu ramai, kehadiran broker besar jadi lebih mudah terbaca.
Contohnya bisa dilihat dari beberapa saham yang pernah mengalami momen rebalancing. Pada saham seperti APIC, SSMS, DSNG, atau MSIN, muncul pola broker tertentu yang cukup menonjol. Dari situ, sebagian pelaku pasar mencoba membaca bahwa broker-broker tersebut kemungkinan menjadi pihak yang menyerap barang buangan passive fund. Mereka masuk saat ada suplai besar, lalu setelah itu bisa saja melakukan distribusi kembali dalam jangka pendek.
Dari pembelajaran itu, saya mulai memahami kenapa pada kasus tertentu saham bisa dibuka langsung ARA saat tanggal rebalancing. Dalam konteks CUAN dan BREN, ada dugaan bahwa saham dibuat ARA agar counter party tidak punya kesempatan masuk terlalu banyak. Karena kalau saham dibuka normal dan passive fund membuang barang dalam jumlah besar, pihak counter party bisa saja menyerap banyak lot di harga tertentu. Setelah itu, mereka punya posisi cukup besar dan bisa menjadi “pekerjaan tambahan” bagi pengendali saham ke depannya.
Bayangkan kalau ada jutaan lot yang harus dilepas oleh passive fund. Kalau barang itu tersebar ke counter party yang karakternya short-term trader, maka pengendali saham perlu mengeluarkan tenaga lebih besar untuk mengatur pergerakan berikutnya. Mereka harus menghadapi pihak yang sewaktu-waktu bisa jualan lagi. Maka, salah satu cara agar pergerakan saham lebih “bersih” adalah dengan langsung membuka harga di ARA, sehingga tidak semua pihak punya kesempatan mudah untuk masuk.
// diskusi
0 komentar. Tulis pertanyaan, tanggapan, atau apapun.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.