Dalam membaca saham, ada satu kondisi fundamental yang perlu membuat kita berhenti sejenak sebelum bicara potensi cuan: ekuitas negatif.

Banyak investor ritel sering melihat saham dari harga nominal. Harga 50 dianggap murah. Harga 100 dianggap punya ruang naik besar. Harga 200 dianggap masih rendah dibanding masa lalunya. Namun harga nominal tidak selalu mencerminkan murah atau mahalnya sebuah perusahaan.

Ada saham yang harganya rendah karena memang market sedang memberi diskon risiko besar. Salah satu risiko itu adalah ekuitas yang sudah negatif atau sangat tipis.

Ekuitas negatif bukan sekadar angka akuntansi. Ia menunjukkan bahwa secara laporan keuangan, kewajiban perusahaan lebih besar daripada asetnya. Dengan kata lain, bantalan pemegang saham sudah habis.

Dalam perusahaan dengan ekuitas negatif, pertanyaan pertama bukan “berapa target harga sahamnya?”, tetapi “apakah masih ada nilai yang tersisa untuk pemegang saham lama?”

Apa Itu Ekuitas?

Ekuitas adalah hak bersih pemegang saham atas perusahaan.

Secara sederhana, ekuitas dihitung dari:

Aset dikurangi liabilitas

Jika perusahaan punya aset Rp10 triliun dan liabilitas Rp6 triliun, maka ekuitasnya Rp4 triliun. Artinya, setelah semua kewajiban dibayar, secara akuntansi masih ada nilai bersih Rp4 triliun untuk pemegang saham.

Ekuitas bisa bertambah dari laba ditahan, setoran modal, right issue, private placement, atau keuntungan komprehensif tertentu. Ekuitas bisa berkurang karena rugi berulang, pembayaran dividen, buyback, kerugian komprehensif, atau penurunan nilai aset.

Bagi investor saham, ekuitas adalah bantalan.

Semakin kuat ekuitas, semakin besar daya tahan perusahaan ketika menghadapi kerugian, penurunan bisnis, atau tekanan utang.

Apa Itu Ekuitas Negatif?

Ekuitas negatif terjadi ketika total liabilitas perusahaan lebih besar daripada total asetnya.

Misalnya perusahaan punya aset Rp5 triliun, tetapi liabilitasnya Rp7 triliun. Maka ekuitasnya negatif Rp2 triliun.

Dalam kondisi ini, secara laporan keuangan, jika seluruh aset dijual sesuai nilai buku dan seluruh kewajiban dibayar, masih ada kekurangan Rp2 triliun.

Itulah kenapa ekuitas negatif menjadi red flag besar.

Bukan berarti perusahaan pasti langsung bangkrut. Ada perusahaan dengan ekuitas negatif yang masih beroperasi karena kreditur memberi kelonggaran, pengendali memberi dukungan, atau bisnis masih berjalan.

Namun bagi pemegang saham, posisi ini sangat lemah.

Karena sebelum pemegang saham mendapatkan nilai, perusahaan harus lebih dulu menyelesaikan kewajibannya kepada kreditur dan pihak lain.

Apa Itu Defisiensi Modal?

Defisiensi modal adalah istilah yang sering digunakan ketika ekuitas perusahaan negatif.