Mengembalikan Jiwa Vespa yang Sempat Hilang

Akhir-akhir ini saya mulai sering kembali ke salah satu hobi yang sebenarnya sudah cukup lama dekat dengan kehidupan saya: Vespa manual.

Dulu hubungan saya dengan Vespa mungkin sesederhana tahu cara mengendarainya. Kebetulan kakak saya punya Vespa manual, jadi sesekali saya pakai, jalan-jalan, menikmati suara mesinnya yang khas, kemudian pulang. Kalau ada masalah sedikit, ya paling gampang panggil orang yang lebih paham.

Pokoknya yang penting bisa jalan.

Sekarang rasanya sedikit berbeda.

Saya mulai ingin mengenal Vespa lebih dalam, bukan sekadar sebagai kendaraan yang bisa membawa saya dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga memahami bagaimana benda tua ini sebenarnya bekerja.

Pelan-pelan saya mulai belajar hal-hal sederhana yang sebelumnya sama sekali tidak saya pedulikan. Bagaimana kalau Vespa tiba-tiba mogok di jalan, bagaimana membuka dan mengecek busi, sedikit memahami karburator, sampai mulai mengenali beberapa kemungkinan penyebab ketika mesin tiba-tiba tidak mau hidup.

Belum sampai level mekanik, tentu saja. Masih jauh sekali.

Tapi setidaknya sekarang kalau Vespa berhenti di pinggir jalan, saya tidak langsung melihat kendaraan itu dengan wajah bingung sambil berharap ada bengkel yang turun dari langit.

Ada rasa puas tersendiri ketika mulai memahami mesin yang kita gunakan.

Mungkin itu juga salah satu hal menarik dari Vespa manual. Kendaraan ini seperti memaksa pemiliknya untuk sedikit mengenalnya. Ada suara yang harus didengarkan, ada karakter mesin yang perlahan harus dipahami, bahkan terkadang ada ritual kecil sebelum berangkat yang mungkin tidak akan ditemukan ketika menggunakan kendaraan modern.

Dan entah kenapa, justru bagian-bagian seperti itu yang membuat saya semakin suka.

Suatu Hari, Saya Ingin Punya Satu

Belakangan saya juga mulai sering memperhatikan Vespa-Vespa yang saya temui.

Bahkan ada satu rumah di sebuah perumahan yang cukup sering menarik perhatian saya karena koleksi Vespanya. Ada PX, Exclusive, small frame, sampai Excel.

Kalau lewat sana rasanya mata otomatis melirik.

Dalam hati kadang muncul pikiran sederhana:

“Kayaknya seru juga kalau suatu hari punya satu Vespa manual sendiri.”

Tidak perlu banyak-banyak.

Satu saja.

Bukan untuk koleksi, bukan juga supaya terlihat seperti anak Vespa paling senior di tongkrongan. Saya hanya ingin punya satu Vespa yang benar-benar bisa menjadi bagian dari cerita masa muda saya.

Dipakai malam-malam ketika sedang ingin jalan tanpa tujuan. Dipakai ngopi. Dipakai muter kota. Sesekali mogok supaya ada bahan cerita. Belajar memperbaiki sendiri. Mungkin suatu hari dibawa perjalanan agak jauh.

Lalu bertahun-tahun kemudian ketika melihat Vespa itu masih terparkir di rumah, saya bisa mengatakan,

“Dulu waktu masih muda, saya ke mana-mana naik ini.”

Entah kenapa bayangan seperti itu terdengar menyenangkan.

Masalahnya, Jiwa Vespa Bertemu Jiwa Frugal Living

Sayangnya ada satu musuh terbesar dari keinginan impulsif membeli Vespa.

Bukan harga Vespa.

Bukan biaya restorasi.

Bukan juga takut mogok di jalan.

Musuhnya adalah diri saya sendiri yang sekarang terlalu terbiasa berpikir:

“Uangnya kalau dimasukkan investasi jadi berapa, ya?”

Hahaha.

Setiap menerima gaji, uang sudah seperti punya jalannya masing-masing. Sebagian masuk instrumen investasi, sebagian disiapkan untuk dana darurat, sebagian masuk tabungan kebutuhan masa depan, dan tentu saja ada satu pos yang cukup lucu: tabungan lamaran.

Padahal orang yang mau dilamar saja sekarang belum ada.

Tidak apa-apa.

Mungkin konsepnya menyiapkan infrastruktur terlebih dahulu, pengguna menyusul kemudian.

Bonus juga kurang lebih mempunyai nasib yang sama. Bukannya langsung berubah menjadi barang yang sudah lama diincar, malah sering berakhir masuk investasi atau tabungan lainnya.

Kadang saya sendiri berpikir hidup dengan prinsip frugal living memang lucu.

Kita punya keinginan, sebenarnya secara kemampuan mungkin bisa saja membeli, tetapi pikiran selalu berkata:

“Nanti dulu.”

Bukan karena tidak mampu menikmati hidup, tetapi karena mulai memahami bahwa setiap uang yang kita keluarkan selalu memiliki opportunity cost.

Dan sampai hari ini, saya masih lebih sering memilih menunda.

Tapi Mungkin Tidak Semua Harus Sekarang

Semakin dewasa saya mulai memahami bahwa tidak semua keinginan harus langsung diwujudkan.

Ada sesuatu yang justru menyenangkan dari proses menunggu.

Hari ini saya mungkin belum mempunyai Vespa manual sendiri. Saya masih menggunakan apa yang tersedia, masih belajar sedikit demi sedikit tentang mesin, masih melihat-lihat PX, Exclusive, small frame, atau Excel milik orang lain sambil membayangkan suatu hari nanti mempunyai satu.

Dan mungkin memang tidak masalah.

Karena bisa jadi cerita tentang Vespa saya bukan dimulai ketika saya membelinya.

Cerita itu sebenarnya sudah dimulai sekarang.

Dari belajar membuka busi.

Dari mulai memahami karburator.

Dari pernah kebingungan ketika mesin tidak mau hidup.

Dari rasa penasaran terhadap suara mesin.

Dari setiap kali kepala otomatis menoleh ketika melihat Vespa tua lewat.

Sampai dari perdebatan kecil di kepala antara membeli Vespa atau memasukkan uangnya lagi ke investasi.

Suatu hari mungkin saya akhirnya mempunyai satu Vespa manual sendiri.

Entah PX, Exclusive, small frame, Excel, atau mungkin Vespa lain yang sekarang bahkan belum masuk daftar incaran.

Tidak perlu buru-buru.

Kalau memang waktunya datang, saya ingin membelinya tanpa rasa bersalah, tanpa mengganggu dana darurat, tanpa mengambil uang kebutuhan masa depan, dan tentu saja tanpa membongkar tabungan lamaran untuk seseorang yang sampai tulisan ini dibuat bahkan belum diketahui siapa orangnya.

Hahaha.

Untuk sekarang, saya cukup menikmati prosesnya.

Belajar mesin sedikit demi sedikit, menikmati suara dua tak, sesekali riding malam, dan terus merawat satu keinginan kecil:

suatu hari nanti, saya ingin punya satu Vespa manual untuk menemani cerita masa muda saya.