Setelah memahami konsep dasar right issue, HMETD, harga teoritis, dan dilusi, kita masuk ke pertanyaan yang lebih penting: bagaimana menilai right issue itu sehat atau mencurigakan?

Karena dalam praktiknya, right issue tidak bisa dinilai hanya dari harga pelaksanaan yang murah. Banyak investor ritel terlalu cepat tertarik ketika melihat harga pelaksanaan jauh di bawah harga pasar. Mereka merasa mendapat kesempatan membeli saham baru dengan harga diskon. Padahal yang lebih penting bukan murah atau mahalnya harga pelaksanaan, tetapi untuk apa dana itu digunakan dan siapa yang paling diuntungkan dari struktur right issue tersebut.

Right issue bisa menjadi jalan perusahaan naik kelas. Tapi right issue juga bisa menjadi cara perusahaan menambal masalah lama sambil membuat pemegang saham lama terdilusi.

Right issue yang sehat menciptakan nilai baru. Right issue yang mencurigakan hanya menambah jumlah saham tanpa memperbaiki kualitas bisnis.

Right Issue Itu Netral pada Awalnya

Secara konsep, right issue itu netral.

Perusahaan menerbitkan saham baru. Pemegang saham lama diberi hak untuk ikut membeli agar kepemilikannya tidak terdilusi. Dana masuk ke perusahaan. Setelah itu, nasib right issue bergantung pada penggunaan dana tersebut.

Kalau dana dipakai untuk sesuatu yang produktif, right issue bisa positif. Kalau dana dipakai untuk hal yang tidak jelas, tidak produktif, atau hanya menunda masalah, right issue bisa menjadi beban.

Jadi sejak awal, jangan langsung menilai right issue sebagai bagus atau buruk.

Kita perlu membaca detailnya.

Apa tujuan dananya? Seberapa besar dilusinya? Siapa pembeli siaga? Apakah pengendali ikut menebus? Apakah ada aset baru yang masuk? Apakah perusahaan punya rekam jejak baik dalam menggunakan dana? Apakah bisnis setelah right issue menjadi lebih kuat?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini yang menentukan kualitas right issue.

Ciri Pertama Right Issue Sehat: Tujuan Dana Jelas

Right issue yang sehat biasanya punya tujuan penggunaan dana yang jelas.

Misalnya dana akan digunakan untuk membangun fasilitas produksi baru dengan kapasitas tertentu, mengakuisisi perusahaan yang sudah menghasilkan pendapatan, membayar utang berbunga tinggi, memperkuat modal kerja untuk kontrak yang sudah ada, atau menyuntik modal anak usaha yang punya prospek nyata.

Semakin jelas tujuan penggunaan dana, semakin mudah investor menilai dampaknya.

Kalimat seperti “untuk ekspansi usaha” masih terlalu umum. Ekspansi usaha seperti apa? Berapa nilai investasinya? Kapan mulai beroperasi? Berapa potensi kontribusinya? Apakah ada risiko eksekusi? Apakah sektor bisnisnya sedang tumbuh?

Right issue yang sehat biasanya tidak hanya memberi janji besar, tetapi memberi detail yang bisa diuji.

Investor tidak harus langsung percaya. Investor harus bisa menghitung secara kasar apakah dana yang masuk punya peluang menghasilkan nilai lebih besar daripada dilusi yang terjadi.