Ada satu momen yang cukup menarik ketika seseorang baru mulai belajar saham.

Biasanya ia membuka aplikasi sekuritas, lalu melihat deretan angka yang bergerak cepat. Ada harga bid, offer, lot, antrean beli, antrean jual, warna hijau, warna merah, dan running trade yang terus berubah.

Awalnya semua terlihat seperti papan angka yang membingungkan.

Namun setelah beberapa waktu, kita mulai sadar bahwa di balik angka-angka itu sebenarnya sedang terjadi “percakapan” antara pembeli dan penjual.

Ada yang ingin membeli lebih murah.

Ada yang ingin menjual lebih mahal.

Ada yang agresif mengejar harga.

Ada yang sabar menunggu di bawah.

Ada yang sengaja menebalkan bid agar saham terlihat kuat.

Ada juga yang memasang offer besar agar harga tampak berat naik.

Di sinilah kita mulai memahami bahwa harga saham tidak bergerak secara ajaib. Harga bergerak karena ada transaksi, tekanan beli, tekanan jual, likuiditas, emosi, dan kepentingan banyak pihak.

Sebelum membaca bandar, kita harus bisa membaca medan kecilnya dulu: orderbook.

Kenapa Orderbook Penting?

Orderbook adalah daftar antrean beli dan antrean jual pada suatu saham.

Di sinilah kita bisa melihat siapa yang sedang menunggu untuk membeli dan siapa yang sedang menunggu untuk menjual, walaupun tentu saja kita tidak tahu identitas asli mereka secara langsung.

Bagi pemula, orderbook sering hanya dianggap sebagai tempat melihat harga beli dan harga jual.

Padahal, orderbook bisa memberi banyak informasi awal tentang karakter saham.

Dari orderbook, kita bisa mulai membaca:

1. Apakah saham ini likuid atau tidak

Saham yang likuid biasanya memiliki antrean bid dan offer yang cukup ramai, spread yang tidak terlalu lebar, dan transaksi yang aktif.

Sebaliknya, saham tidak likuid sering terlihat sepi. Bid tipis. Offer tipis. Kadang jarak harga beli dan jualnya jauh. Saham seperti ini bisa terlihat menarik saat naik, tetapi menyulitkan saat kita ingin keluar.

2. Apakah pembeli sedang agresif

Kalau pembeli terus menghajar offer, berarti ada tekanan beli yang cukup kuat. Harga bisa terdorong naik karena pembeli tidak sabar menunggu di bid.

3. Apakah penjual sedang dominan

Kalau penjual terus membuang barang ke bid, berarti tekanan jual sedang besar. Harga bisa turun karena penjual lebih agresif daripada pembeli.

4. Apakah harga sedang dijaga

Kadang ada saham yang setiap kali turun ke harga tertentu langsung muncul bid besar. Ini bisa menjadi tanda bahwa ada pihak yang berusaha menjaga level harga.

Namun ini tetap perlu hati-hati. Bid besar bisa sungguhan, bisa juga hanya pancingan.