Ada satu pengalaman yang hampir pasti pernah dirasakan investor ritel.

Pagi atau siang hari kita membuka berita market, lalu membaca kalimat seperti ini:

IHSG ditutup menguat.

Atau:

IHSG melanjutkan kenaikan.

Sekilas terdengar menyenangkan. Market sedang bagus. Indeks naik. Seharusnya portofolio ikut hijau.

Tapi ketika kita membuka aplikasi sekuritas, kenyataannya berbeda.

Saham yang kita pegang justru merah. Ada yang turun dua persen, ada yang tidak bergerak, bahkan ada yang antre jualnya tebal. Di saat yang sama, berita market bilang IHSG sedang menguat.

Dari situ muncul pertanyaan sederhana, tapi penting:

kenapa IHSG naik, tapi saham saya tidak ikut naik?

Pertanyaan ini adalah pintu masuk yang bagus untuk memahami bahwa pasar saham tidak bergerak sebagai satu tubuh yang selalu kompak. Di dalam IHSG, ada banyak saham, banyak sektor, banyak kepentingan, dan banyak aliran dana yang bergerak dengan arah berbeda.

Episode ini akan membahas IHSG, indeks sektoral, dan kenapa market tidak selalu naik bersama-sama.

IHSG Itu Seperti Termometer Besar, Bukan Cermin Semua Saham

IHSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan.

Secara sederhana, IHSG menggambarkan pergerakan umum saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Banyak orang menjadikan IHSG sebagai gambaran besar apakah market Indonesia sedang kuat atau lemah.

Kalau IHSG naik, orang sering bilang market sedang hijau.

Kalau IHSG turun, orang bilang market sedang merah.

Tapi di sinilah banyak pemula salah memahami.

IHSG bukan berarti semua saham naik bersama-sama.

IHSG juga bukan berarti semua investor sedang untung.

IHSG adalah gambaran rata-rata besar, dan dalam rata-rata itu, ada saham yang naik, ada yang turun, ada yang diam, ada yang ramai, dan ada juga yang tidak disentuh pasar sama sekali.

Bayangkan sebuah kelas berisi banyak murid. Nilai rata-rata kelas bisa naik karena beberapa murid mendapat nilai sangat tinggi. Tapi bukan berarti semua murid nilainya naik.

Begitu juga IHSG.

IHSG bisa hijau karena beberapa saham berkapitalisasi besar naik, terutama saham-saham big cap yang bobotnya besar terhadap indeks. Namun di saat yang sama, banyak saham kecil atau menengah bisa saja tetap turun.

Karena itu, jangan langsung merasa aman hanya karena IHSG sedang naik.

Yang lebih penting adalah memahami: saham apa yang membuat IHSG naik? sektor apa yang sedang menguat? apakah saham kita berada di arus yang sama atau justru tertinggal?

Tidak Semua Saham Punya Bobot yang Sama

Di dalam IHSG, setiap saham tidak punya pengaruh yang sama.

Saham besar dengan kapitalisasi pasar besar memiliki pengaruh lebih kuat terhadap IHSG dibanding saham kecil.

Misalnya, saham bank besar, saham telekomunikasi besar, atau saham konglomerasi besar bisa memberi pengaruh signifikan terhadap arah IHSG. Ketika saham-saham besar ini naik, IHSG bisa ikut terdorong meskipun banyak saham kecil sedang melemah.