Ada sesuatu yang sangat menggoda ketika kita baru masuk ke pasar saham: melihat saham bergerak cepat.

Pagi dibuka di satu harga, beberapa menit kemudian sudah naik beberapa persen. Lalu tiba-tiba antrean offer habis. Running trade ramai. Grup saham mulai berisik. Ada yang bilang “mau ARA”. Ada yang bilang “barang dikunci”. Ada yang mulai takut ketinggalan.

Di layar, semuanya terlihat seperti peluang.

Tapi di balik pergerakan cepat itu, ada mekanisme pasar yang perlu dipahami: fraksi harga, auto rejection, ARA, dan ARB.

Bagi pemula, istilah-istilah ini sering terdengar teknis. Padahal kalau dipahami dengan tenang, semuanya sangat penting untuk membaca risiko.

Karena tidak semua saham yang naik cepat layak dikejar.

Dan tidak semua saham yang turun dalam berarti sudah murah.

Di market, kecepatan harga bisa menjadi peluang, tetapi juga bisa menjadi jebakan kalau kita tidak tahu mekanismenya.

Fraksi Harga Itu Apa?

Fraksi harga adalah satuan minimum perubahan harga saham.

Bahasa sederhananya, saham tidak selalu bergerak per Rp1. Ada saham yang bergerak per Rp1, ada yang per Rp2, per Rp5, per Rp10, per Rp25, dan seterusnya, tergantung kelompok harga saham tersebut.

Misalnya sebuah saham bergerak dengan fraksi Rp1.

Maka harga bisa berubah dari 100 ke 101, lalu 102, lalu 103.

Namun kalau saham bergerak dengan fraksi Rp5, maka perubahan harganya bisa dari 500 ke 505, lalu 510, lalu 515.

Kalau fraksinya Rp25, maka harga bisa bergerak dari 5.000 ke 5.025, lalu 5.050, lalu 5.075.

Fraksi ini terlihat sederhana, tetapi efeknya besar terhadap cara harga bergerak.

Kenapa Fraksi Harga Penting?

Fraksi harga penting karena memengaruhi kecepatan persentase pergerakan saham.

Saham harga rendah bisa terlihat sangat cepat naik atau turun karena satu tick perubahan saja sudah memberi persentase yang cukup besar.

Misalnya saham di harga 50 naik ke 51.

Secara nominal hanya naik Rp1.

Tapi secara persentase, itu sudah naik 2%.

Bandingkan dengan saham harga 5.000 yang naik ke 5.025. Secara nominal naik Rp25, tapi secara persentase hanya sekitar 0,5%.

Inilah kenapa saham harga rendah sering terasa lebih “liar”. Pergerakannya bisa cepat, persentasenya terlihat besar, dan emosinya lebih mudah memancing ritel.

Tapi di sisi lain, risiko turunnya juga sama cepat.

Saham murah secara harga belum tentu murah secara risiko.

Fraksi Harga dan Spread Bid-Offer

Fraksi harga juga memengaruhi spread bid-offer.

Spread adalah jarak antara bid tertinggi dan offer terendah.

Kalau spread kecil, transaksi biasanya lebih nyaman. Kita bisa membeli dan menjual dengan selisih harga yang tidak terlalu jauh.