Setelah membahas PER, PBV, dan ROE, sekarang kita masuk ke bagian fundamental yang sering membuat investor salah menilai saham: utang.

Banyak saham terlihat murah dari sisi PER. Ada yang PBV-nya rendah. Ada yang laba bersihnya masih positif. Tapi begitu kita buka neraca, ternyata utangnya besar, beban bunganya berat, kasnya tipis, dan utang jangka pendeknya menumpuk.

Di sinilah kita belajar bahwa valuasi murah tidak cukup. Perusahaan juga harus punya daya tahan keuangan.

Utang bukan selalu buruk. Banyak perusahaan tumbuh karena memakai utang secara produktif. Tapi utang bisa menjadi masalah besar jika bisnis tidak cukup kuat untuk membayar bunga dan pokoknya.

Saham murah dengan utang sehat bisa menjadi peluang. Saham murah dengan utang berat bisa menjadi jebakan yang pelan-pelan menggerus nilai pemegang saham.

Kenapa Utang Penting dalam Analisis Saham?

Utang penting karena bisa memperbesar pertumbuhan, tetapi juga memperbesar risiko.

Jika perusahaan memakai utang untuk membangun aset produktif, memperluas kapasitas, atau membiayai proyek yang menghasilkan return lebih tinggi daripada biaya bunga, utang bisa membantu perusahaan naik kelas.

Namun jika utang dipakai untuk menutup kerugian operasional, membayar utang lama, atau membiayai ekspansi yang tidak menghasilkan, utang bisa menjadi beban.

Masalah utang biasanya tidak terasa saat bisnis sedang bagus. Laba masih ada, cash flow masih masuk, bank masih percaya, dan market masih tenang.

Masalah baru terasa ketika pendapatan turun, margin melemah, suku bunga naik, atau utang jatuh tempo bersamaan. Saat itu, beban bunga bisa menekan laba dan kebutuhan pembayaran pokok bisa menguras kas.

Investor yang matang tidak hanya bertanya “perusahaan untung atau tidak”, tetapi juga “perusahaan sanggup membayar kewajibannya atau tidak”.

Apa Itu DER?

DER adalah singkatan dari Debt to Equity Ratio.

Secara sederhana:

DER = total liabilitas / total ekuitas

DER menunjukkan seberapa besar kewajiban perusahaan dibanding modal pemegang saham.

Jika DER 1 kali, berarti total liabilitas kira-kira setara dengan ekuitas. Jika DER 2 kali, berarti liabilitas dua kali ekuitas. Jika DER sangat tinggi, perusahaan lebih banyak dibiayai oleh kewajiban daripada modal sendiri.

Namun DER tidak boleh dibaca kaku.

Setiap sektor punya karakter berbeda. Bank, multifinance, konstruksi, properti, infrastruktur, dan manufaktur punya struktur neraca yang tidak sama.

DER tinggi di sektor tertentu bisa normal. DER tinggi di sektor lain bisa sangat berisiko.

Yang penting bukan hanya angkanya, tetapi kemampuan perusahaan membayar kewajiban tersebut.

Total Liabilitas Tidak Sama dengan Utang Berbunga