Setelah membahas valuasi dasar, sekarang kita masuk lebih dalam ke tiga rasio yang paling sering muncul dalam obrolan investor saham: PER, PBV, dan ROE.

Tiga rasio ini terdengar sederhana. PER untuk melihat harga dibanding laba. PBV untuk melihat harga dibanding nilai buku. ROE untuk melihat kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal sendiri.

Namun dalam praktiknya, tiga rasio ini sering disalahgunakan.

Ada investor yang membeli saham hanya karena PER rendah. Ada yang merasa aman karena PBV di bawah 1 kali. Ada yang terlalu kagum pada ROE tinggi tanpa sadar bahwa ROE itu bisa muncul karena utang besar atau ekuitas yang terlalu kecil.

Padahal PER, PBV, dan ROE bukan jawaban akhir. Mereka adalah pintu masuk untuk bertanya lebih dalam.

Rasio keuangan bukan alat untuk mencari kepastian. Rasio keuangan adalah alat untuk menemukan pertanyaan yang lebih tepat.

Kenapa PER, PBV, dan ROE Penting?

PER, PBV, dan ROE penting karena membantu kita membaca hubungan antara harga saham, laba, ekuitas, dan kualitas bisnis.

PER membantu menjawab: market sedang membayar berapa kali laba perusahaan?

PBV membantu menjawab: market sedang membayar berapa kali nilai buku atau ekuitas perusahaan?

ROE membantu menjawab: seberapa efektif perusahaan mengubah ekuitas menjadi laba?

Ketiganya saling berhubungan.

Saham dengan PBV tinggi bisa tetap masuk akal jika ROE-nya tinggi. Saham dengan PER rendah bisa menarik jika labanya berulang dan cash flow-nya sehat. Saham dengan PBV rendah bisa menjadi peluang jika asetnya berkualitas dan bisnis mulai membaik.

Namun jika dibaca terpisah, ketiganya bisa menyesatkan.

PER rendah bisa menjadi jebakan. PBV rendah bisa menjadi value trap. ROE tinggi bisa muncul dari leverage yang berlebihan.

PER: Membayar Berapa Kali Laba?

PER adalah singkatan dari Price to Earnings Ratio.

Secara sederhana:

PER = harga saham / laba per saham

Atau jika memakai skala perusahaan:

PER = market cap / laba bersih

Jika PER sebuah saham 10 kali, artinya market menghargai perusahaan tersebut sebesar 10 kali laba tahunannya.

Misalnya sebuah perusahaan punya laba bersih Rp1 triliun dan market cap Rp10 triliun. Maka PER-nya 10 kali.

Secara sederhana, PER membantu kita melihat seberapa mahal harga saham dibanding laba perusahaan saat ini.

Namun kata “saat ini” penting. Karena market tidak hanya membeli laba sekarang. Market juga membeli ekspektasi laba masa depan.

PER Rendah: Murah atau Sedang Didiskon Risiko?

Banyak investor suka saham PER rendah.

Misalnya ada saham PER 4 kali. Secara sekilas terlihat murah. Seolah-olah dalam 4 tahun laba perusahaan bisa “menutup” harga market cap-nya.