Setelah membahas laporan laba rugi, neraca, arus kas, valuasi, PER, PBV, ROE, DER, utang, dan beban bunga, sekarang kita masuk ke salah satu bagian fundamental yang sangat penting: kualitas laba.

Banyak investor pemula hanya bertanya: perusahaan ini laba atau rugi?

Pertanyaan itu tidak salah. Tapi belum cukup.

Investor yang lebih matang akan bertanya lebih dalam: laba ini berasal dari mana? Apakah dari bisnis utama? Apakah berulang? Apakah didukung uang kas? Apakah margin membaik? Apakah laba naik karena operasional, atau hanya karena keuntungan sekali waktu?

Karena di pasar saham, tidak semua laba punya kualitas yang sama.

Ada laba yang kuat, sehat, berulang, dan didukung arus kas operasi. Ada juga laba yang hanya terlihat bagus di headline, tetapi sebenarnya rapuh karena berasal dari revaluasi, penjualan aset, selisih kurs, atau pencatatan akuntansi yang tidak menghasilkan kas nyata.

Laba yang baik bukan hanya laba yang besar. Laba yang baik adalah laba yang bisa diulang, berasal dari bisnis utama, dan berubah menjadi kas.

Kenapa Kualitas Laba Penting?

Kualitas laba penting karena harga saham sering bereaksi terhadap laba.

Saat perusahaan mengumumkan laba naik, market bisa menjadi optimistis. Saat laba turun, market bisa kecewa. Namun jika kita hanya membaca laba bersih, kita bisa salah menilai.

Laba bersih bisa naik karena bisnis benar-benar membaik. Tapi bisa juga naik karena faktor yang tidak berulang.

Misalnya perusahaan menjual tanah, mendapat keuntungan besar, lalu laba bersih melonjak. Secara headline, laba naik. Tapi apakah bisnis utama membaik? Belum tentu.

Atau perusahaan mencatat keuntungan selisih kurs karena kondisi mata uang tertentu. Laba naik, tetapi belum tentu operasional lebih kuat.

Kualitas laba membantu kita membedakan antara laba yang bisa menjadi dasar valuasi jangka panjang dan laba yang hanya muncul sesaat.

Laba Operasional vs Laba Non-Operasional

Salah satu cara paling sederhana membaca kualitas laba adalah membedakan laba operasional dan laba non-operasional.

Laba operasional

Laba operasional berasal dari kegiatan utama perusahaan. Jika perusahaan menjual makanan, laba operasional berasal dari bisnis makanan. Jika perusahaan tambang menjual batu bara, laba operasional berasal dari aktivitas tambangnya. Jika perusahaan bank mendapat pendapatan bunga dan fee, itu bagian dari bisnis utamanya.

Laba non-operasional

Laba non-operasional berasal dari hal-hal di luar bisnis utama. Misalnya keuntungan penjualan aset, selisih kurs, revaluasi, pendapatan bunga dari kas besar, atau keuntungan satu kali lain.

Laba operasional biasanya lebih bernilai karena lebih mungkin berulang.

Laba non-operasional tidak selalu buruk, tetapi jangan diberi valuasi yang sama seperti laba inti yang berkelanjutan.