Bulan April sampai Mei kemarin, saya akhirnya sampai di satu titik yang cukup berat untuk saya akui:

Saya kalah dari dunia forex.

Bukan kalah kecil. Bukan sekadar loss yang bisa saya anggap sebagai “biaya belajar”. Tapi benar-benar kehilangan uang dalam jumlah yang besar. Kalau ditotal, kurang lebih saya kehilangan Rp80–90 juta lebih, atau sekitar $4.700 lebih.

Angka yang kalau saya pikirkan lagi sekarang, rasanya cukup menampar.

Awalnya saya masuk ke dunia forex dengan rasa penasaran kembali (setelah diskusi dengan Mas Advent). Saya suka membaca chart, melihat arah market, memahami trend, dan mencoba mengikuti pergerakan harga. Terutama di XAUUSD, saya merasa ada sesuatu yang menarik dari sana. Saya mulai mengenal technical analysis, mulai dari Moving Average 200, 50, 10, sampai RSI sebagai alat bantu untuk mengambil keputusan buy atau sell.

Secara teori, semuanya terlihat masuk akal.

Kalau trend sedang naik, kita cari peluang buy. Kalau trend sedang turun, kita cari peluang sell. Kalau harga menyentuh area tertentu, kita baca momentum. Kalau indikator mendukung, kita masuk posisi.

Tapi ternyata, market tidak sesederhana garis yang saya lihat di layar.

Ada satu momen yang paling membekas di kepala saya. Waktu itu saya sedang di Solo, mengunjungi teman saya. Pagi hari setelah bangun tidur, saya membuka chart dan melihat setup yang menurut saya sangat menarik. Garis trend, Moving Average, dan RSI terlihat cocok untuk posisi buy.

Saya masuk posisi sekitar pukul 06.50, beberapa menit sebelum market masuk jam 7. Saat itu candle terlihat bagus. Posisi juga sempat floating profit. Rasanya setup saya benar. Saya merasa sudah membaca market dengan tepat.

Tapi begitu masuk jam 7, market tiba-tiba berbalik arah.

Cepat sekali.

Dan saya terkena margin call.

Di titik itu, saya benar-benar terpukul. Bukan hanya karena uangnya hilang, tapi karena beberapa saat setelah margin call, harga justru berbalik lagi ke arah yang sebelumnya saya prediksi. Bahkan kalau posisi saya masih aman, floating profit-nya bisa sangat besar.

Di kepala saya saat itu muncul banyak sekali penyesalan.

“Padahal setup saya benar.”

“Padahal arahnya sesuai.”

“Padahal kalau tadi tidak kena margin call…”

Tapi ya begitulah forex. Kadang benar arah saja tidak cukup kalau manajemen risikonya buruk.

Ada tiga hal yang paling saya sesali dari kejadian itu.

Pertama, saya tidak menggunakan stop loss. Saya terlalu percaya dengan analisis saya sendiri, seolah-olah market harus bergerak sesuai skenario yang saya buat.

Kedua, saya melakukan revenge trading. Padahal saat liburan ke Kediri dan Solo, saya sempat profit sekitar Rp10 juta lebih. Tapi setelah loss Rp5 juta di pagi itu, emosi saya mulai mengambil alih. Saya tidak lagi trading dengan kepala dingin. Saya trading untuk membalas kekalahan.

Ketiga, saya tidak tahu kapan harus berhenti.

Teman saya, Fikri Ubaidillah, sempat mengingatkan saya.

“Sudah, Waz. Stop. Jangan diterusin.”

Tapi saat itu saya tidak benar-benar mendengarkan.

Saya terus membuka posisi sampai malam, dan akhirnya loss sekitar Rp30 juta dalam satu hari.

Hari itu menjadi salah satu hari paling aneh dalam hidup saya. Saya sedang liburan, harusnya menikmati waktu bersama teman. Tapi kepala saya justru penuh dengan chart, angka, floating, margin, dan rasa penasaran yang tidak sehat.

Naasnya, setelah pulang dari Solo, saya mengalami kejadian lain yang semakin membuat bulan itu terasa berat. Smartphone saya, iPhone 15, hilang di jalan. Entah tertinggal di bus, jatuh saat naik Gojek, atau terlepas dari jaket denim saya.

Rasanya bulan itu seperti pukulan beruntun.

Loss besar di forex, lalu kehilangan barang pribadi yang juga tidak murah.

Saya sempat mencoba trading lagi. Bahkan hasilnya sempat sangat bagus. Dalam dua hari, saya pernah mendapatkan sekitar $1.800. Saat itu saya berpikir, “Coba dari awal saya konsisten dengan gaya trading saya.”

Tapi di situlah masalahnya.

Saya sering tidak konsisten.

Saya suka mengambil posisi sell di area resistance, tapi ketika harga menembus resistance itu dan lanjut ke resistance berikutnya, saya tetap bertahan dengan ego saya sendiri. Bukannya cut loss, saya malah berharap harga balik. Bukannya disiplin, saya malah melawan arah. Bukannya berhenti, saya justru semakin masuk terlalu dalam.

Dan pelan-pelan saya sadar, masalah terbesar saya bukan hanya di market.

Masalah terbesar saya ada di diri saya sendiri.

Di emosi saya.

Di rasa penasaran saya.

Di ego saya.

Di keinginan saya untuk membalas kekalahan secepat mungkin.

Ketika saya kehilangan uang bonus dari kantor, uang yang jumlahnya puluhan juta, saya akhirnya mulai sadar bahwa ini sudah tidak sehat. Uang yang seharusnya bisa saya gunakan untuk banyak hal baik, justru habis karena saya tidak bisa mengendalikan diri.

Saya kemudian bertemu dan bercerita dengan teman-teman saya di Surabaya. Ada Fanny, Jali, Prifan, dan Danar. Mereka membantu saya melihat kondisi ini dengan lebih jernih. Mereka menyadarkan saya bahwa saya harus berhenti.

Cukup.

Jangan diteruskan lagi.

Kadang kita memang butuh teman yang bisa menarik kita keluar ketika kita sudah terlalu jauh tenggelam. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengingatkan bahwa hidup kita jauh lebih besar daripada satu layar chart.

Dari fase ini, saya belajar bahwa dunia forex itu sangat misterius.

Ada orang yang mungkin bisa menemukan “harta karun” di sana. Tapi ada juga yang perahunya justru dihantam ombaknya sendiri. Dan saya, pada fase itu, adalah orang yang kapalnya mulai bocor karena terlalu percaya diri, terlalu emosional, dan terlalu ingin menang cepat.

Forex juga berbeda dengan saham.

Kalau di saham, ketika harga turun dari posisi beli, selama perusahaannya masih ada dan kita tidak pakai margin berlebihan, kita masih memegang aset tersebut. Masih ada kepemilikan. Masih ada ruang untuk evaluasi jangka panjang.

Tapi di forex, terutama dengan leverage, semua bisa hilang dengan sangat cepat. Salah posisi, terlalu besar lot, tidak pakai stop loss, dan terlalu percaya diri bisa menjadi kombinasi yang sangat berbahaya.

Saya menulis ini bukan untuk menyalahkan forex sepenuhnya.

Saya juga tidak ingin sok bijak seolah-olah saya paling paham setelah kalah. Tapi saya ingin jujur kepada diri sendiri dan kepada pembaca blog ini, bahwa ada fase dalam hidup saya di mana saya kalah oleh sesuatu yang awalnya saya pikir bisa saya kendalikan.

Ternyata tidak.

Atau lebih tepatnya, saya belum cukup dewasa untuk mengendalikannya.

Saya terlalu serakah saat profit.

Terlalu panik saat loss.

Terlalu emosional saat market tidak sesuai harapan.

Terlalu keras kepala untuk berhenti.

Dan terlalu percaya bahwa satu kemenangan besar bisa menghapus semua kesalahan sebelumnya.

Padahal kenyataannya, yang terjadi justru sebaliknya.

Saya semakin dalam.

Saya semakin lelah.

Dan akhirnya saya harus mengakui bahwa saya kalah.

Terima kasih untuk teman-teman saya yang sudah support dan mengingatkan: Arthur, Fikri, Ammar, Mas Advent dan teman-teman dekat lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Terima kasih juga untuk teman-teman yang tidak menghakimi, tapi tetap menegur.

Tulisan ini menjadi penanda bahwa saya ingin berhenti dari siklus yang tidak sehat itu. Saya ingin kembali membangun hidup dengan cara yang lebih pelan, lebih sadar, dan lebih bertanggung jawab.

Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti saya akan melihat kembali dunia ini dengan cara yang berbeda. Tapi untuk saat ini, saya memilih mundur.

Bukan karena saya tidak pernah menang.

Tapi karena saya sadar, kemenangan kecil yang tidak disertai kendali diri hanya akan membawa saya ke kekalahan yang lebih besar.

Dengan ini, saya mengaku kalah dari dunia forex.

Dan semoga kekalahan ini menjadi pelajaran yang benar-benar saya ingat.